Rasa kantuk menyerang begitu dahsyatnya, kelopak mata serasa digelayuti berkilo-kilo batu. Tak sabar ingin sampai di rumah dan segera merebahkan badan dan mengistirahatkan mata. Tapi sopir angkutan itu tak juga memajukan mobilnya barang sejengkal pun, menunggu penumpang di perempatan jalan. Setelah seorang ibu tergopoh-gopoh membawa beberapa kantong yogya berukuran besar naik ke mobil angkutannya barulah pak sopir menjalankan angkutannya. Kalau tidak bersabar menunggu penumpang mungkin dia tak akan mendapatkan untung apa-apa karena sejak dari terminal leuwipanjang tadi hanya aku seorang yang menumpang mobilnya dan baru ini bertambah seorang lagi penumpang. Kadang kasihan juga dengan para sopir angkot di kota ini, karena begitu banyak angkutan yang beroperasi sehingga sering mereka tak kebagian penumpang. Tapi kadang juga membuat penumpang jengkel karena terlalu lama ngetem sedangkan udara panas dan debu-debu jalanan menyesakkan.
Kamar berukuran 3 x 2,5 m ini menawarkan kenyamanan beristirahat setelah bertarung dengan teriknya sinar matahari di tengah hari. Jarum pendek jam menunjuk angka 2 sedangkan jarum panjang tepat berada di angka 6, artinya aku harus segera menunaikan shalat dzuhur dan untuk sementara mengacuhkan godaan empuknya kasur dan bantal. Nasehat pakar kecantikan untuk tidak membasuh muka yang beringat karena bisa menyebabkan tumbuhnya porong tak kuhiraukan untuk segera mengambil air wudhu. Empat rakaat di siang hari telah ditunaikan tanpa berpanjang-panjang.
Suara sms masuk menyadarkanku dari lelapnya tidur siang, sms dari bapak di kampung yang mengingatkan aku untuk berpuasa sunah pada tanggal satu rajab yang jatuh pada hari rabu nanti. Kulipat mukena yang tadi tak sempat kurapikan karena keburu diserobot oleh kantuk yang menggila. Lalu berusaha melanjutkan kembali tidur siang yang terpotong, tetapi resah tiba-tiba menyeruak dalam hati dan gelisah menyelimuti. Rasa yang acapkali muncul dengan tiba-tiba tanpa definisi. Sms bapak mengingatkan betapa hangatnya berada diantara keluarga, teringat minggu lalu dikerumuni ariel, arkian dan nadia yang menghabiskan masa liburannya disini, kini menyadari bahwa aku sendiri di negeri orang tak punya seorang pun sanak saudara, hidup tiba-tiba terasa hampa. Hati yang gelisah tak mau berkompromi dengan mata yang masih ingin memejam, berguling ke kanan dan ke kiri membuat hati makin resah. Aku tau tak akan berhasil memaksa untuk melanjutkan tidur. Alunan nasyid sarat dengan nasehat yang biasanya membuat hati menjadi tenang ternyata semakin membuat hati menjadi runyam, karena syairnya menyadarkan betapa dzolimnya diri ini yang masih berkubang dalam kemaksiatan, seperti lumpur hidup yang menarik-narik kaki yang berusaha menyelamatkan diri.
Kala adzan subuh berkumandang
Tak terasa hatiku bergetar
Teringat akan segala dosa Yang selama ini kulakukan
Kurindu ingin segera berjumpa
Tuk ungkapkan segala hasrat dan pinta
Air mata menetes tak terasa
Kusadar segalanya atas ridho dan cinta-Nya
Ya allah
Hindarkanlah hamba dari beban dan dosa
Yang kan lenakanku pada dunia fana
Dan kan jatuhkan daku dalam lembah nestapa
Ya allah
Ingatkanlah hamba atas karunia-Mu
Agar diriku tegar dan tegak selalu melangkah di jalan-Mu
Kuatkanlah diri ini
Menempuh cinta Ilahi
Agar damai jiwa ini
Agar damai...jiwa ini...
*Bestari*
Posted at 05:43 pm by
^Na^