...WELCOME TO MY BLOG...




^Na^
Female
Bandung
Bermula dari detik, jam, hari, bulan, tahun...
Begitulah kehidupan ini berjalan, setiap saat kita mengalami peristiwa, atau melihatnya dengan mata kita
Semuanya akan menjadi berharga bila kita mampu mengambil pelajaran darinya...
Blog ini dibuat untuk mencurahkan pengalaman, pemikiran, keinginan dan impian kita
Supaya kita belajar...

buzz me

   

<< July 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




RSS Atom
rss feed


Layout edited from the Huntington template from: BlogDrive
Image from: MorgueFile
Designed by: Uncommon Thoughts

BLOGDRIVE
TEMPLATES
Serenity


Serenity
Friday, August 04, 2006
Suara itu....

Sepertiga malam terakhir itu tak seperti malam-malam sebelumnya. Saat aku membuka kelopak mata dan menemukan sesosok laki-laki terbaring lelap disampingku. Air mukanya teduh menebarkan kesejukan di hati. Dialah laki-laki yang telah mengikrarkan ijab qabul di hadapan penghulu serta semua tamu yang hadir dalam akad nikah kami.

Hampir sepuluh menit termangu mengamati sejuk teduh wajahnya. Ragu aku membangunkannya untuk menunaikan shalat lail bersama, tapi kebiasaan ini haruslah dipelihara bagaimana pun juga sulitnya. Rupanya laki-laki itu pun tak kalah kaget menemukan sesosok wanita membangunkannya di ujung malam itu. Akhir malam yang berhiaskan shalat lail dan munajat kepada sang khaliq, menyatakan kesyukuran tak berhingga atas nikmat yang telah dikaruniakan-Nya, menemukan belahan jiwa yang selama ini dicari dan dinanti. Suasana haru menyelimuti kami, airmata mengalir dari sepasang mata milik lelaki bersahaja yang kini telah menjadi imamku. Itulah malam pertama pernikahan kami.

Menjelang pukul empat, lelaki itu pamit untuk pergi ke masjid, padahal subuh masih setengah jam lagi. Ya, memang aku belum tahu kebiasaan-kebiasaan lelaki yang baru aku tau namanya dua bulan yang lalu. Lantunan ayat terdengar merdu dari corong pengeras suara masjid sebagaimana hari-hari sebelumnya. Menebarkan indahnya lantunan firman Allah di setiap telingan orang-orang yang beriman. Bacaan Al Quran yang mempesona, indah dan mampu nggetarkan kalbu.
Suara itu… bukankah itu suara lelaki yang baru saja menjadi imam shalat lailku malam ini? Bukankah itu suara yang mengikrarkan ijab qabul di akad nikah kemarin?

Subhanallah…. baru aku sadari, pemilik suara yag aku kagumi setiap hari menjelang subuh itulah yang kini telah menjadi suamiku. Lantunan Al Quran itu seperti air yang menyirami bunga di taman hatiku, lalu bunga-bunga cinta itu pun bermekaran.

Posted at 05:26 pm by ^Na^
MaNgGa KoMenTarNya...  


Thursday, August 03, 2006
Pemuda di Rumah Sebelah

Suara adzan Subuh menggema dari corong speaker yang menggantung di bawah kubah Masjid Al Kautsar telah membangunkanku dari lelapnya tidur malam setelah kemarin lelah memindahkan barang dari kost lama. Suara adzan disini memang terdengar lebih keras dibandingkan di kost sebelumnya, karena jarak ke masjid tak lebih dari 30 m.
Menempati kamar di lantai dua memberikan keleluasaan pandangan pada langit yang membentang luas tak bertepi, pada pucuk-pucuk pohon jambu, mangga dan palem yang tumbuh dihalaman tumah tetangga, menyusuri atap-atap rumah yang berjejer, menangkap layang-layang yang putus, lalu menabrak menara satelindo......aughhh sakit .......
Kubuka jendela menyilahkan angin yang mengetuk-ngetuk kaca jendela menawarkan sejuknya udara pagi. Tak sengaja mataku menangkap sesosok bayangan lelaki yang baru keluar dari rumah sebelah. Tingginya tak kurang dari 170 cm, tidak kurus juga tidak gemuk, usianya kira-kira 26 tahun, yang paling menarik adalah pakaian lelaki itu, celana ngatung sejengkal diatas mata kaki lengkap dengan baju koko yang panjangnya hampir menyentuh lutut serta kopiah putih menutupi kepalanya. Pemuda itu membuka pintu pagar dan berjalan sangat cepat hampir setengah berlari, pastinya ia tak mau ketinggalan shalat subuh berjamaan di masjid. Bayangan itu segera lenyap ditelan keremangan fajar.
Kututup kembali daun jendela untuk menghalau udara pagi yang terasa lebih dingin saat musim kemarau seperti ini, penasaran membawaku kembali membuka daun jendela dan merelakan diri diserang dinginnya udara pagi ini berharap melihatnya pulang dari masjid.
Rasa penasaran pada sosok pemuda itu mampu menggerakkanku untuk bangun lebih awal pada hari berikutnya, dan segera bergegas menghampiri jendela seolah ada magnet disana sedangkan tubuhku terbuat dari logam. Seolah tak ingin terlewat sedikitpun mengamati pemuda itu yang keluar dari rumah sebelah seperti hari sebelumnya. Berdiri dibalik jendela sejak dilantunkan Ayat-Ayat suci Al Quran hingga dikumandangkan adzan subuh lalu iqamat, tapi sosok pemuda itu tak juga muncul dari rumah yang terletak tepat disamping rumah kostku. Begitupun hari-hari berikutnya, menunggu dibalik jendela kamar, dari hari ke hari entah telah berapa hari, minggu dan bulan terlewati namun tak juga kudapati sosok pemuda itu lagi ......

Posted at 09:27 am by ^Na^
MaNgGa KoMenTarNya...  


Tuesday, August 01, 2006
Menangislah Ariel

Anak-anak .... ponakan-ponakanku saat berkumpul, bermain, berebut mainan, ada yang menang ada yang kalah, lalu asik main dengan mobil-mobilan yang barusan dimenangkannnya dalam adu rebutan dengan yang lain, dan yang kalah menangis. Umumnya anak-anak menangis meraung tak henti-hentinya memekakkan telinga, tapi ada juga yang sesenggukan menahan tangis.
Aku melihatnya, Ariel tidak menangis karena sesuatu yang dilakukan oleh Rafi. Tapi aku tak tau kenapa dia tidak menangis saja yang keras seperti anak-anak yang lain atau mengadukannya pada kami, orang-orang dewasanya. Kenapa dia harus menyimpan tangisnya hanya didadanya yang sempit itu? aku tak tega melihatnya menahan tangis, aku lebih suka dia menumpahkan kesedihan dalam butiran-butiran airmatanya yang sebening kristal. Sejauh yang aku tau, Ariel anak yang introvert. Dia takut pada sesuatu yang balum dapat aku definisikan tapi dia juga berani dengan banyak hal yang tak mampu aku kelompokkan pula.
Lalu aku tanyakan padanya tentang sesuatu yang mengganggunya, apakah mainannya direbut ataukah disakiti oleh rafi?
Menangislah bila ingin menangis .......
menangislah, karena aku ingin melihatmu menangis .......
menangislah karena kadang menangis jauh lebih baik dan melegakan .......
menangislah karena tiba-tiba aku rindu dengan tangisanmu itu .......
menangislah mumpung kamu masih anak-anak ........
Lalu aku mendengar suara tangisnya yang indah melegakan.
Aku tak mengajarinya untuk menjadi laki-laki cengeng, aku ingin mengajarkannya mengungkapkan apa yang dirasakannya.

Posted at 09:35 am by ^Na^
MaNgGa KoMenTarNya...  


Tuesday, July 25, 2006
Episode Rumah Mewah

Alunan nasyid "Alhamdulillah" kolaborasi Opick dan Amanda membawaku terbang ke masa beberapa waktu silam. Saat lagu itu sedang ngetrend, diputar setiap saat di stasiun tivi maupun radio. Saat umat islam menjalankan ibadah puasa ramadhan 1426 H. Saat hampir1 tahun yang lalu proses itu dimulai dan diakhiri dalam waktu 2 atau 3 bulan saja.

Rumah dengan ruang tamu berukuran 3 x 3 m, 2 kamar tidur yang cukup besar, ruang tengah, dapur dan kamar mandi. Rumah yang saya kontrak bersama-sama dengan 2 temanku, Dewi dan Okta. Kami menyebutnya rumah "Mewah", rumah MEpet saWAH. Tak adanya sanak saudara di negeri rantau membuat kami saling membutuhkan, rasa sayang tumbuh seperti cendawan di musim hujan.

Tukang sayur yang kami tunggui dengan setia setiap sabtu pagi, memilih sayur serta lauk untuk dimasak bersama mengisi kekosongan di hari libur sabtu pagi. Kegiatan yang langka sekali aku lakukan di rumah orang tuaku di kampung justeru di rantau ini bisa menjadi saat-saat untuk mempererat persaudaraan kami. Dewi selalu berperan sebagai chef di rumah kecil kami, sedangkan aku dan Okta sebagai asistennya. Perbedaan kultur diantara kami ternyata juga sampai pada perbedaan cara-cara memasak, tapi aku mengikuti aturan sang chef aja, karena kalau kita masing-masing mempertahankan kebiasaan kita di rumah maka akan banyak terjadi crash diantara kami.

Aku ingat disuatu pagi, Okta sangat giat membersihkan rumah dalam kebisuannya. Bukan kebiasaannya untuk sunyi seperti itu tanpa menyapa aku dan dewi yang sedang konser di dapur, membuat pertanyaan besar di kepala kami berdua. Semua bagian rumah dibabat habis olehnya, dari nyapu dan ngepel lantai hingga ngelap kaca jendela. Bukan saat yang tepat untuk menanyakan apa-apa padanya, mungkin dia sedang ada sesuatu yang membuatnya risau tapi berusaha untuk menghadapi sendiri. Tapi sikapnya itu membuat kami merasa tak enak. Memang ada saat-saat kita tak ingin bicara membagi permasalahan kita dan tak ingin diganggu orang lain. Kami menunggunya sampai saat makan tiba dia mulai bicara meski tak sedikit pun menyinggung alasannya berdiam diri di pagi ini.

To be continued….

Posted at 03:37 pm by ^Na^
Comment (1)  


Thursday, December 22, 2005
My God Spot

adalah tempat dimana aku bisa merasakan suasana ilahiah.

Tempat dimana mampu menimbulkan getaran "aneh" yang tiba-tiba menyelisip dalam dada dan menggedor-gedor pintu hati kita, memaksa keluar dalam teriakan menyebut asma Allah yang begitu Agung, membuat mata tiba-tiba tak kuasa menahan gelombang airmata.

Tempat yang mengundang rasa kangen yang menyeruak dalam dada, mengharapkan segera bertemu dengan-Nya, 'tuk mengadukan segala gundah, sedih, berdosa, memohon ampunan karena seringkali melupakan-Nya, mengalahkan urusan-Nya dengan urusan-urusan duniawi. Menyampaikan segala kesyukuran atas segala nikmat dan karunia yang tak pernah ada hentinya. Menyampaikan segala hajat dan keinginan setelah apa yang kita dapatkan masih saja terasa kurang dan kurang.

Tempat yang menumbuhkan rasa yang tak bisa diwakili oleh bahasa apapun yang ada di muka bumi ini.

Lalu, ingin sekali aku ciptakan God Spot-God Spot yang lain, bukan hanya di masjid tempat kita shalat atau tempat-tempat taklim. Tapi juga di rumah, kantor, mall, sepanjang jalan yang kita lalui, dan tiap tempat yang kita singgahi, di dunia nyata dan maya, di blog-blog yang menggugah spiritualitas kita.

Hingga bisa menyadarkan kita bahwa kehadiran-Nya dimana-mana.


Posted at 03:28 pm by ^Na^
Comments (3)  


Monday, December 12, 2005
Weekend bareng kawan lama

Rasa kangen tiba-tiba menyelinap di hati sewaktu sms seorang teman masuk dan menanyakan kabar. Tak terasa hampir satu tahun terpisah jarak dan waktu. Teringat masa lalu dimana kami menghabiskan malam bersama, menengok masa lalu dan mengintip masa depan. Bertukar kisah untuk saling belajar. Kegagalanku dimasa lalu jangan sampai berulang di masamu. Dan semoga kita bisa saling bertukar kesuksesan.

Week end ini aku sempatkan tuk mengunjungimu, sebelum jarak makin jauh memisahkan kita.

Aku tidak seperti yang kau lihat setahun yang lalu, kini aku memang lebih kurus tapi kini aku makin tegar!

Kini kau makin gemuk dan perutmu telah buncit, sebentar lagi akan ada yang memanggilmu ibu… sebagaimana pernah kita liat bersama waktu mengintip masa depan, dan kau akan lebih dulu merasainya. Jangan lupa ceritakan padaku bagaimana rasanya.

Semalam kita habiskan waktu bersama, seperti malam-malam setahun yang lalu. Memutar kembali rekaman cerita hidupmu maupun hidupku. Melihat kebahagiaanmu pada detik-detik yang berhasil ditangkap oleh kamera.

Waktu berlalu begitu cepat, dan kita pun harus berpisah lagi untuk merangkai kembali episode hidup berikutnya.

Esok kan tiba masanya kita akan bersua lagi

Semoga...amiin


Posted at 05:32 pm by ^Na^
Comments (2)  


Wednesday, December 07, 2005
SMS untuk Bunda

Bu...aku mau pulang
'tuk membasuh kakimu dalam bejana air bunga
Lalu membasuh wajahku dengan air bekasnya
Coba merasai nikmatnya air surga yang tiada tara

Posted at 07:59 am by ^Na^
MaNgGa KoMenTarNya...  


Friday, December 02, 2005
Tiga Tak Selalu Serangkai

"Persahabatan antara tiga orang adalah sesuatu yang sulit", saya pernah mendengar kata-kata itu, atau mungkin membacanya (maaf , agak lupa J), tapi kalimat itu begitu melekat dalam ingatan saya.

Saya teringat kembali pada kata-kata itu saat satu dari tiga orang teman saya yang selama ini selalu bersama-sama harus meninggalkan kami, tapi saya nggak percaya.

Kini, saya teringat kembali pada kalimat itu, karena sekarang saya rasakan memang pertemanan ini agak sulit bagi kami bertiga, sebenarnya bukan saat ini saja, sebelumnya juga sering saya rasakan, cuman nggak pernah saya ambil pusing alias cuek saja.

Bertiga sering membuat formasi kami menjadi 2-1, sedihnya yang 1-nya adalah aku L. Tapi mungkin itu karena keadaan saja, yaitu keadaan-keadaan yang serba kebetulan;

Kebetulan mereka berdua seruangan di kantor, dan aku terpisah sendiri.

Kebetulan mereka sering ada pekerjaan yang sama sehingga harus pergi bersama.

Kebetulan mereka sering punya acara yang sama sehingga lebih sering bersama.

Kebetulan saat yang satu ingin pulang mudik yang satunya juga sama.

Kebetulan yang satu lagi nggak nafsu makan yang satunya juga ketularan.

Kebetulan demi kebetulan itu mungkin menumbuhkan kebetulan yang lain, "kebetulan mereka lebih akrab"

Saya cemburu....mungkin....

Tapi justru itu yang membuat saya bisa melakukan keinginan saya sendiri, bukan idem yang lain, membuat Home Alone bukan sesuatu yang membosankan, dan jalan-jalan di mall sendirianpun tetap oke.

Membuat saya tidak bergantung pada orang lain, tapi hanya kepada-Nya...amien

Posted at 12:13 pm by ^Na^
MaNgGa KoMenTarNya...  


Thursday, December 01, 2005
Terjebak dalam rutinitas

Seringkali kita menjalani hidup ini datar-datar saja, seolah-olah nggak ada perbedaan antara hari ini dan hari kemarin bahkan hari-hari beberapa minggu yang lalu.

Bangun pagi, makan, sarapan kalo sempat, lalu berangkat ke tempat aktivitas, melakukan pekerjaan seperti biasanya lalu sorenya pulang, dilanjutkan dengan nonton tivi trus berangkat tidur.

Suatu saat aku ngobrol dengan temen yang sudah lama sekali nggak kontak, apalagi yang ditanyakan kalo bukan kabar masing-masing? yang diharapkan tentulah perkembangan masing-masing. Lalu apa yang dikatakan temen saya itu? Dia berharap akan bertemu dengan sesuatu atau seseorang yang menarik dipersimpangan jalan sehingga hidupnya nggak datar-datar saja atau akan lebih bergelombang, supaya dia bisa menceritakan hidupnya yang menarik kepada saya.

Jadi mungkin setiap kita berharap kehidupan yang dinamis tapi tanpa disadari dengan pasrahnya kita menjebakkan diri dalam rutinitas sehari-hari.

Suatu waktu mungkin kita sempat mikir apa yang telah aku lakukan hari ini, apa hasilnya dan bagaimana besok harus lebih baik, bahasanya kerennya sih "muhasabah", tapi paling lama dua atau tiga minggu kita bisa mempertahankan kebiasaan baik itu, selanjutnya bolong, mungkin karena kesibukan atau bosan. Bahkan tanpa kita sadari malasnya lebih lama daripada rajinnya.

Jangan berpikiran sempit atau pesimis, sebenarnya hari-hari kita nggak akan terasa datar meskipun kita tidak mengalami kejadian besar setiap hari. Kejadian kecil akan menjadi besar bila kita bisa memaknai, mengambil pelajaran, dan tentu saja menikmatinya.

Posted at 12:13 pm by ^Na^
Comment (1)  


Friday, November 25, 2005
Mata yang paling indah...

Kita bersyukur karena lulus ujian, telah menjadi sarjana, mendapat pekerjaan yang diidam-idamkan, mendapat gaji yang besar, mampu membeli rumah dan mobil, mendapat istri yang cantik, anak-anak yang lucu,

Kita bersyukur telah berhasil melakukan ini dan itu…

 

Tapi…

Apakah kita telah bersyukur?

Untuk bisa membuka mata dan bangun pagi ini

Untuk setiap gerak reflek kelopak mata

Setiap tetes air mata yang membersihkan pandangan

Setiap gerakan bola mata

Setiap helai bulu alis yang melindungi mata

Setiap helai bulu mata yang menghalau debu

Setiap pemandangan yang ditangkap oleh sistem lensa mata

Keindahan alis, bulu mata, kelopak mata, dsb dsb...

 

Adakah hasil karya lain yang mampu menandingi ciptaan ini?

Sadarkah kau itu baru satu dari berjuta kenikmatan yang dilimpahkanNya pada kita?

 

Kita mengeluhkan mata yang sipit, alis yang tebal, bulu mata yang pendek, mata yang nggak biru seperti Si Bule.

Kita sombong telah mampu membuat softlens berbagai warna, kacamata berbagai bentuk, dan berhasil melakukan transplantasi mata.

 

Kita merisaukan kerutan tipis di sekitar mata dan kantung di bawah mata

Taukah kau sahabat Umar Bin Khatab menangisi kedzaliman masalalunya sampai berbekaslah aliran airmata di pipinya

 

Sudahkah kita gunakan mata ini untuk melihat kebaikan?

Sudahkan kita menjaganya dari pandangan yang tidak halal?

Sudahkan kita bersyukur atas kesempurnaan mata yang dikaruniakan pada kita?

 

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Posted at 12:16 pm by ^Na^
MaNgGa KoMenTarNya...  


Sociable for Blogdrive - all-in-one: Mini-MEditor, del.icio.us, co.mments, Google Blog Search, Technorati and RSS Feed
Previous Page Next Page