|
Sungguh raudhah masih kecil, tak menyadari nilai-nilai yang ditanamkan oleh ayahnya kelak akan menjadikannya manusia yang arif. siang hari itu mendung tiba-tiba menyelimuti langit, pak tamim yg sedang berbaring di bale-bale depan rumah bergegas memakai kaos oblongnya, memakai topi sma punya ahmad yg kini tak dipakai ahmad lagi dan menyambar sekop untuk menggaruk padi yg sedang dijemur dihalaman. sambil berteriak memanggil anak-anaknya, ahmad, shofi, nada dan raudhah. si bungsu raudhah dan kakak-kakaknya sigap mengambil alat masing-masing, ahmad mengambil sekop untuk membantu ayahnya, shofi, nada, dan raudhah mengambil sapu lidi membersihkan padi yang tidak terbawa oleh sekop. mereka bekerja cepat sekali, tapi hujan tak mau sabar menunggu sampai pekerjaan mereka selesai. dalam guyuran hujan deras mereka tetap melanjutkan mengumpulkan padi, tapi semua padi basah kuyup diguyur hujan. maka sia-sialah kerja mereka mengeringkan padi hari itu. beberapa hari ini hujan turun hampir setiap hari hingga padi pak tamim tidak bisa kering dan harga jualnya makin turun. tapi semangat pak tamim tak pernah turun. raudhah sangat patuh pada orangtuanya, tak pernah menolak perintah ayahnya, tapi hati kecilnya sering berkhayal andai saja ayahnya lurah atau camat atau dokter tentu ia tak akan bekerja sekeras ini. Sungguh raudhah masih kecil, tak menyadari didikkan ayahnya kelak akan menjadikannya seseorang yang tak mengenal putus asa. kala malam tiba, seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah, mendengarkan sandiwara radio ibuku malang ibuku tersayang, ditemani pisang goreng atau ubi goreng buatan ibu tamim, raudhah membayangkan keluarganya seperti dalam cerita tersebut, dan damayanti adalah dirinya, ia begitu menjiwai perannya dan sangat bahagia meski hanya khayalan saja. dan raudhah senang menirukan sountracknya dengan suaranya yang datar tanpa irama, "ibuku malang... ibuku tersayang...tatap matamu satu..." bila malam menjelang rasa penat pun datang setelah seharian bekerja keras, bila sudah spt itu pak tamim akan menyuruh anaknya memijat sekujur badannya, dan yg paling disukai adalah pijatan raudhah, kata ayahnya tangan raudhah adalah tangan yg hebat karena pijatannya ampuh menghilangkan penat, maka raudhah memijat ayahnya dengan semangat, sambil bercerita tentang teman-temannya di sekolah, tapi raudhah merasa waktu berjalan sangat lambat karena ayahnya belum menyuruh berhenti. bulan ramadhan adalah waktu yang paling disukai raudhah, karena saat berbuka ibunya akan menyediakan banyak makanan yg enak-enak. pertengahan bulan ramadhan raudhah dan saudaranya akan mendapatkan baju baru untuk lebaran, biasanya mereka akan dibelikan baju yg sama sehingga mirip robongan anak panti asuhan. maka pak tamim akan pergi ke kota membeli baju untuk mereka, raudhah ingin sekali ikut ayahnya belanja baju ke kota, tapi yg diajak adalah nada supaya nyari ukuran bajunya lebih mudah, satu no lebih besar untuk sofi dan satu no lebih kecil untuk raudhah. masuk akal sekali alasan ayahnya shg ia tidak protes, dia mewanti-wanti nada kakaknya untuk memilih model baju yg berenda, banyak sakunya dan warnanya pink. seharian raudhah menunggu ayah dan nada, waktu terasa lambat sekali berlalu. ayah dan nada tiba di rumah membawa kantong besar sri ratu, raudhah senang sekali dengan baju barunya, dicoba berkali-kali sambil ngaca di cermin yg menempel di daun pintu lemari, ia seperti melihat rapunzel di cermin lalu senyum-senyum sendiri. malam itu raudhah tidur ditemani baju baru disampingnya, esok harinya raudhah coba lagi baju barunya, bu tamim bilang jangan terlalu sering dicoba nanti tidak kliatan baru lagi, maka baju lebaran itu dilipat dan disimpan di lemari. raudhah mulai menghitung hari, menanti lebaran. Sungguh raudhah masih kecil, tak menyadari ajaran ayahnya kelak akan menjadikannya seseorang yang penuh dengan rasa kasih sayang. waktu terus berjalan dan masa demi masa berganti, ahmad melanjutkan kuliahnya di kota, shofi dan nada belajar di pesantren di jatim, kini tinggal raudhah sendiri di rumah, ia seringkali kangen dengan sodara-sodaranya, ia kangen berebut makanan dengan kakak-kakaknya, dan ia lebih kangen lagi manakala panen tiba sehingga ia akan sendirian menunggui gabah yg sedang di jemur, tak ada tawa gembira dgn kakak-kakaknya spt dulu, tak ada lg kejar-kejaran dgn kak ahmad. waktu terus berlalu dan masa demi masa berganti. kini raudhah sudah hampir menyelesaikan kuliahnya. saat wisuda, ayah ibu kakak dan ponakan mendampinginya. Butir-butir padi mengantarkannya menjadi seorang sarjana |
| guido agus witantro July 24, 2007 07:42 PM PDT karya yang menarik,seakan sebuah pengalaman hidup yang nyata. | ||
| Leave a Comment: |