Entry: butir butir padi (3) Tuesday, July 17, 2007



lihatlah raudhah sekarang, sudah duduk di sekolah dasar, baju merah putih itu manis sekali dibadannya. masalah klasik bagi raudhah adalah kesulitan bangun pagi, dan itu didukung oleh ayahnya, usai shalat subuh pak tamim melanjutkan tidur di kasur raudhah, mendekap bungsunya erat-erat sampe raudhah tersengal napasnya sesak, pak tamim baru akan membebaskan bungsunya pukul 6. raudhah langsung menghambur ke kamar mandi, selesai mandi langsung lari-lari ke kamar, tanpa busana.
ketika naik kelas 2, raudhah mulai merasa malu atau risih apalah didekap sama ayahnya, awalnya karena melihat nada, kakak sepangkuannya meronta melepaskan dekapan ayahnya. kenapa? bapak kan ayah kita sendiri, raudhah mendebat nada yang saat itu sudah kls 5 sd. kan malu tau. sergah nada sengit, nada kan udah bukan anak kecil lagi kayak kamu. pak tamim mahfum, kenyataannya anak-anak terus tumbuh meskipun di mata pak tamim anak-anaknya tetaplah anak-anak, selalu terlihat masih kecil yang biasa dibopong dan diletakkan dipundaknya, kaki kanan dan kiri mengempit kepalanya.
sejak saat itu raudhah juga pingin malu didekap ayahnya, begitu mendengar ayahnya ambil air wudhu untuk melaksanakan shalat subuh, raudhah bergegas bangun, ikut shalat subuh dan tidak tidur lagi setelah shalat, sebagai gantinya raudhah mengganggu bunda di dapur, sehingga sepagi itu dapur bunda meriah sekali karena ocehan dan tingkah raudhah.
selain sekolah sd di pagi hari raudhah juga ikut sekolah arab kalo siang, sekolah madrasah tapi mreka biasa menyebutnya sekolah arab, karena disana diajarkan bahasa arab. sepulang sekolah pagi, raudhah bersiap-siap berangkat sekolah arab, menghapal kitab tarikh atau tajwid di beranda rumah, menutup mata sementara menghapal dengan suara keras setengah berteriak. padahal sebenarnya tidak perlu berteriak sama sekali tapi tanpa sadar suaranya nyaring saking semangatnya.
semangat raudhah membakar semangat pak tamim untuk menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya meski harus menggadaikan mahar ibu tamim untuk membiayainya.

sungguh tiap tetes peluh pak tamim tak akan sia-sia.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments